Bangsa ini memang bangsa tempe. Julukan yang bener juga salah. Dulu tempe dipandang sebelah mana, identitas sosial kaum marginal indonesia. Dulu anak yang bodoh identik dengan asupan gizi dari olahan kedelai seperti tempe, tahu, gembos, tauco, kecap , dll. Sehingga orang yang tiap hari makan tempe tahu dipastikan tidak bakal pinter, tidak bertenaga, kurus, dan berbagai sifat yang ditempelkan kepada orang miskin. Padahal hanya karena tempe – tahu yang mampu dibeli orang miskin , bukan sebaliknya tempe yang bikin mereka bodoh dan miskin.
Justru sebaliknya tempe dkk malah memiliki asupan protein yang tinggi dan sehat dibanding makanan kota seperti KFC dan Mc Donald. Justru tempe dan semangat yang kuat yang menghantar anak menjadi pintar dan berhasil di kemudian hari. Jadi berbanggalah kita menjadi bangsa tempe.
Sayangnya indonesia memang bangsa tempe yang cuma bisa dimakan klo tidak kelamaan di ragiin. Kita cuma berfikir pendek dan individual. Tidak banyak orang yang pintar pun karena tempe mau menjadi petani kedelai. Selain harga kedelai lokal yang murah, kebijakan pemerintah tidak menciptakan iklim yang mendorong petani untuk menanam kedelai. Sehingga pasar pun mencukupi permintaan yang ada dengan mengimport kedelai dari luar negeri seperti amerika. Saat harga kedelai lokal dengan import tidak terpaut jauh, belum ada masalah yang muncul. Sehingga saat kedelai di pasar internasional naik tinggi, pengusaha yang berbahan baku kedelai mengalami kenaikan ongkos produksi dan harus berefesiensi atau menaikkan harga jual produknya.
Kenaikan harga kedelai yang harusnya berpengaruh baik bagi petani kedelai lokal justru berimbas buruk pada pabrik pengolahan kedelai. Harga naik dan tempe dkk pun menghilang dari pasar. Para pedagang dan pemilik prabrik tahu-tempe pun berdemo meminta bantuan pemerintah untuk menurunkan harga kedelai. Issu tempe malah mampu menyaingi berita sakitnya mantan penguasa indonesia. Pemerintah pun merespon dengan menurunkan bea masuk kedelai import hingga 0%. Menolongkah ? Sementara kedelai import sendiri membawa masalah akibat sifatnya yang trangenik, bisa menimbulkan alergi, menambah kekebalan terhadap antibiotik, dan bersifat karsinogen.
Dimana akar masalahnya dari kelangkaan kedelai? Apakah ada permainan spekulan bahan makanan sehingga harga kedelai internasional naik. Kenapa pula harga kedelai di pasar internasional lebih tinggi dibanding harga lokal malah bikin bangkrut perekonomian tempe kita. Apa mungkin suply tempe lokal yang sedikit lari dieksport karena harganya lebih mahal di luar sana ketimbang di dalam negeri.
Produksi kedelai lokal memang kurang dari perminataan yang ada. Sehingga kita rentan terhadap perubahan harga kedelai internasional. Belum lagi kemungkinan larinya kedelai lokal ke pasar luar. Seharusnya ini menjadi peluang bagi kita. Tanah kita yang belum tergarap masih luas. Kita juga pernah berswasembada dalam pangan di jaman orde baru. Kenapa sekarang turun. SDM kita kebanyakan lari ke sektor industri dan informal sehingga makin sedikit aja jumlah petani di indonesia. Ini bukan hanya soal kedelai tapi juga beras, kelapa sawit, dan buah-buahan.
Jadi kebijakan 0% bea masuk justru menguntungkan petani negara lain, sementara kita makin kekenyangan aja makan tempe bagi yang masih mampu membeli tempe. Lihkat saja kedelai yang masuk ke indonesia adalah kedelai berbahaya yang ditolak masuk ke negara2 Uni Erop yang lebih ketat dalam policy importnya. Serbuan barang2 luar yang kadang g jelas spesifikasi dan kwalitasnya masuk ke indonesia tanpa filter yang menlindungi petani lokal. Sementara kita juga terlena oleh promosi buah import yang lebih menaikkan gengsi timbang buah lokal. Apel, jeruk, mangga, dll Kenapa kita ngga berfikir untuk memilih produk lokal timbang produk luar untuk kwalitas yang sama.
Bangsa yang kaya akan kekayaan nabati dan hewani kian terpuruk karena keserakahan dan keinginan sesaat. Apa yang dapat dengan tenang kita makan di bumi ini. Daging pun di beri pewarna dan formalin, atau dicampur dengan daging babi atau tikus dengan alasan keuntungan. Sayuran makin susah dan mahal harganya. Bakso diberi boraks dan formalin. Tempe tahu pun mahal. Makin banyak orang tidak perduli apa yang masuk ke mulut mereka asalkan enak dilidah. Padahal sebagai muslim kita harus menjaga apa yang masuk dan keluar dari tubuh kita. Kita harus makan yang halal – halal bendanya dan cara masaknya – , baik untuk tubuh – dlm sifat dan takarannya, juga makanan itu di beli dari uang yang diperoleh dengan jalan yang halal.
Hyo yang mau kampanye mending bagi-bagi tempe ketimbang bendera partai




