Bagaimana saya melewati sabtu malam ini, pertanyaan yang sering muncul saat kita masih kuliah dan punya banyak waktu. After merit, kebanyakan cuma di rumah nonton TV, apalagi sekarang ada si kecil. Tonight show is “Ayat-ayat Cinta the MOvie”. Suprised huh ? Memang di bioskop pun baru putar malam ini, itupun dari jadwal tayang yang sedianya tanggal 28 nanti. Mungkin dimajukan perdananya karena sudah bocor duluan, atau karena memang sudah kelamaan mundur jadi sekarang gantian dimajuin. hayah ada-ada aja
Yang jelas jangan cari saya di bioskop seputaran senayan atau cilandak, karena 3 tahun lebih di jakarta saya BELUM PERNAH berniat nonton film di bioskop, apalagi film yang diputar cuma cinta2an atau hantu2an.
Maaf saya buat mas Hanung dkk, karena sudah ikut nonton bajakan, namun justru mau kasih komentar soal film ini. Jujur saya juga g puas kok nonton bajakan karena ada bagian yang kepotong, tapi nanti coba saya cari lagi di internet
Back to topic, how good is the movie from my perspective. As a movie is good, but as movie with mission (they said is regilous) is unsatisfied. Saya tidak akan berkata bagus mana film dengan novelnya karena pasti untuk seorang pelahap buku (BOOKs EATER) seperti saya novel is everything. ini juga berlaku untuk Harry Potter dan kebanyakan film yang diangkat dari novel. Untuk AAC klo boleh saya bilang film ini diadaptasi dari novelnya.
Jalan cerita banyak yang diubah padahal justru itu yang memberikan ruh bagi novel tersebut. Seperti perkenalan Maria dengan Fahri yang dihiasi oleh ketertarikan Maria akan Islam, bagaimana Maria yang lebih mengagumi indahnya Al-Qurán dan Maria yang hafal surat Maryam dan Al-Maidah,bukan Maria sebagai tukang ketik. Sejak awal hingga akhir saya tidak melihat secara eksplisit Maria yang menjadi muslim, kecuali keinginan dia untuk shalat bersama yang saya terima hanya sekedar keromantisan keluarga.
“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.”
Bagian ini yang harusnya menjadi titik klimak dari pencarian seorang Maria akan cinta sejati dan kebenaran.
Istri saya menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa ada pemain yang bukan muslim. Saya pun tidak ingin menyinggung agama apapun, cuma klo fokus ke film mana totalitasnya. Seakan-akan film ini pengin mengambil pasar orang indonesia yang muslim, tapi juga g mau kehilangan penonton umum (non muslim). Jadi buat yang bukan muslim sah-sah aja kok nonton film ini
Soal karakter, Maria dan Noura (bukan Nuro seperti di film) paling pas dan hampir sama seperti karakter yang digambarkan di novel. Sedangkan Aisha, terlalu ditonjolkan sisi glamornya dan cemburuan, padahal kekuatan Aisha ada pada kepintaran, manja, gabungan antara budaya Islam dengan barat. Fahri sebagai tokon utama banyak terlihat bingung dan minta advice dari saiful sahabatnya, sehingga kematangan dan kedewasaan malah menjadi milik saiful.
Banyak tokoh yang dihilangkan seprti ayah Maria dan saudara laki2nya. Dan ada pula tokoh tambahan seperti keluarga Fahri, Ibu, Ayah, dan Adiknya.
Yang saya tangkap dari film ini adalah berusaha menceritakan perjalanan cinta Fahri dengan gadis2 di sekitarnya, dimana Fahri diceritakan sebagai seorang muslim taat yang sedang kuliah di Al-Azhar sehingga prinskipnya dalam mengelola hubungan cinta berbeda dengan cerita cinta kebanyakan.
Sedangkan menurut saya novelnya lebih menceritakan kisah perjalanan tokoh2nya dalam mencari cinta sejati dalam koridor islam. Bagaimana Noura yang kemudian menfitnah Fahri karena cintanya sadar, Nurul yang memaksa menjadi istri kedua menemukan pelabuhannya, Aisha menjadi seorang istri dari seseorang dengan latar belakang budaya berbeda dan menghadapi kesulitan hingga harus memilih cintanya atau cintaNya, dan Fahri yang dikelilingi gadis2 yang selalu mengaguminya mendapatkan cinta terbaik setelah belajar untuk mencintaiNya terlebih dahulu. Dan Maria, ini tokoh favorit saya, seperti salman – walau berbeda keyakinan tapi dia tetap bisa objectif dan terus mencari cintanya, cinta akan kebenaran hakiki.
Klo masih penasaran kenapa saya bisa berkomentar demikian, baca dulu deh novelnya.
Pesen saya, klo mampu beli DVDnya nonton aja dirumah. Klo terpaksa ke bioskop ajak temen2 yang sejenis jadi biar tetep halal klo mau nangis bareng. Klo g mampu dan pengin nonton, download aja asal punya koneksi gede, wong filenya total 800an MB. Minimal baca deh ebooknya.
Buat siapa aja, muslim atau bukan. Buka hati dan pikiran lebar2, cari kebenaran dan cintamu yang hakiki. Seperti Maria !!





Kayanya dengan membaca postingan ini sudah cukup deh ., he..he..he.. makasih sharingnya
aku baru baca postingan curhatnya mas hanung bramantya. jadi aku mah nunggu yang versi resminya keluar aja deh.
a comment from varendy.wordpress.com
Yup saya juga sudah baca kok, yang belum silahkan baca disini.
Cuma yah karena saya g sabar nunggu DVD nya dan g bakal nonton di bioskop jadilah pengobat penasaran. Tapi bener kok nonton yang original lebih puas, seperti AAC bajakanya ada yang terpotong dan effeknya masih garing banget. Suara Fahri tallaqi aja masih suara cewek, aneh kan. Makanya nonton filmya klo bisa asal jangan sama pasangan. Aku juga nunggu masih nunggu original DVDnya kok, masih pengin lihat yang aslinya gimana.
http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/12/AAC_BAJAKAN
Kan saya udah cantumin diatas bos, itu lho yang “disini”
repost deh
wah jadi makin penasaran pengen nonton