Sadar atau tidak sadar kebudayaan kita sekarang adalah kebudayaan yang diadaptasikan ke kita oleh corporasi-corporasi yang tujuan utamanya adalah KEUNTUNGAN. Bahasa mereka di sampaikan melalui advertising produk, yang dilabel entah sebagai iklan, penawaran, atau layanan masyarakat. Didukung dengan sumber daya, PR yang bagus, program CSR yang mengena, masyarakat seakan menjadi tujuan padahal mereka hanyalah sebagai object, sebagai calon kostumer produk atau jasa yang mereka hasilkan.
Saya bukan pesimis atau negatif thinking. Tapi inilah realitinya, tujuan akhir adalah meningkatnya penjualan dan keuntungan korporasi. Masyarakat juga diuntungkan tetapi korporat kadang tidak ikhlas dalam pemberiannya kerena dibalik itu mereka mengharapkan feedback positif ke branding awarnees dan position produk dalam masyarakat.
Bagaimana klo saya katakan sekarang kalangan korporasi melakukan itu semua bahkan tanpa modal dan malah kostumer yang memberikan modalnya ?? Contoh kongkrit adalah promosi berhadiah. Mungkin klo sekedar promosi bonus dan hadiah sudah biasa, tetapi dalam dunia telekomunikasi semua jadi luar biasa.
Semua pasti tahu content provider, layanan SMS berbayar mahal untuk mendapatkan informasi yang diminta oleh pelanggan. Bagaimana klo skematik yang sama ditetapkan untuk hanya mengikuti undian ecek-ecek yang anak SD saja bisa, dengan hadiah2 yang wahh. Berpikirlah 4 dimensi, begitu kata Emmet Brown pencipta mesin waktu di Back To The Future.
Ok lah katakan satu SMS 2000, tapi coba bayangkan seandainya dari 50 juta pelanggang GSM yang ikut cuma 0.01 atau 500ribu orang. Hasil yang diperoleh adalah 2000×500rb = 1.000.000.000 atau 1M. Ok memang keuntungan ini dibagi-bagi bersama tapi paling tidak saya sudah menunjukkan enaknya kue CP kan ! katakan 25% milik CP jadi 250juta, dengan modal kerjasama dengan operator dan slot tayang di TV dengan presenter yang bakat banget jualan jamu.
Ok mungkin sebagian besar sudah tahu hal tersebut dan menganggap mending duit 2000 itu buat sms-an bisa 6 sms normal. Tapi bagaiman klo skema yang sama diterapkan hanya dengan harga sms normal? G percaya ? Mungkin anda g sadar saja, padahal bukan pihak ketiga atau content provider yang mengadakan justru malah operator sendiri. Tentulah darimana datangnya harga sms biasa klo tidak memotong rantai makanan. OK saya tidak ingin menunjuk operator mana, toh saya jarang banget memperhatikan kecuali operator kartu yang saya pakai sehari-hari. Tapi mulai aja dicek atau diperhatikan operator masing2, biasanya mereka memberikan bonus berupa poin dan poin tersebut nantinya bisa ditukar dengan sms atau nelpon gratis dan juga no undian. Masalahnya untuk mengetahui berapa poin yang kita punya dan menukarkannya dengan hadiah yang kita pilih tidaklah gratis, pun penukaranya g bisa sekaligus hanya per-sejumlah poin untuk bonus tertentu yang diinginkan.
Hitung2an potensialnya, katakan untuk cek dan menukar butuh 2 kali sms = 700. Katakan yang ikut hampir setengah, bahkan mungkin lebih karena siapa seh yang mau bonus sms hangus, 25 juta x 700 = 17.5 M. So sadarkah kita klo mobil hadiah itu adalah patungan semua pelanggan yang mungkin tidak seberuntung kita.
Hal ini juga bukan sepenuhnya karena korporat, mereka hanya mencari keuntungan dan toh mereka tidak berbohong. Walau informasi jelasnya kadang tidak sejelas promonya. Kita pun sebagai konsumen harusnya tidak bodoh2 amat. Jangan mudah termakan promosi dan trik marketing korporat. Pikir lebih panjang untuk menggunakan suatu produk menurut prinsip dan kebutuhan kita. Prinsip ? Benar sebagai pembeli kita harus membeli berdasar prinsip, contohnya beli produksi lokal dibanding barang luar, toh banyak kok barang lokal bagus2.Jangan termakan gengsi dari segmentasi produk, kita adalah produk dari pemikiran dan kelakuan bukan dari apa yang kita makan dan pakai. Dukung produk yang aman bagi lingkungan dan berpihak kepada konsumen.
Saya setuju banget dengan pak dosen ini bahwa perusahaan telekomunikasi harus diaudit oleh publik auditor mengenai tarif dan layanan yang diberikan kepada masyarakat. Sebagaimana produk makanan dan elektronik yang harus memiliki standar mutu dan lingkungan, kami juga mengharapkan hal yang serupa dari operator telekom, jadi bukan hanya jor2an tarif tapi juga kualitas layanan yang baik. Kualitas yang baik ini tentunya bukan sekedar klaim sepihak dari operator.
Tulisan ini hanya sekedar uneg2 saya demi kemajuan operator telekom di indonesia, jadi baik operator akan menjadi penyedia layanan telekom yang handal, tetapi kostumer juga menjadi kostumer yang tidak kaget teknologi dan memanfaatkan teknologi bagi perbaikan kehidupan. Bukan mimpi yang muluk2 kan.
Disclaimer: tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan operator telekom tapi sekedar sharing pengalaman supaya bangsa ini menjadi konsumen yang makin pintar dan selektif.




